Bernasindonesia.com - Saudaraku, kesenangan melihat orang lain bersalah atau menutupi kejahatan besar dgn menggunjing kejahatan kecil adalah proyeksi dari cahaya kegelapan di langit jiwa kita sendiri. Dalam warna dasar kegelapan itu, pepohonan tua berbuah hampa; sedang tunas-tunas muda layu sebelum berkembang. Bagai menegakkan batang terendam, setiap percobaan kebangunan, jatuh kembali ke kemunduran.
Kita ingin sarapan pagi dengan harapan, tapi tak banyak orang yg menyalakan cahaya jiwa. Bagaimana bisa mengubah dunia, jika tak bisa mengubah diri sendiri? Jalaluddin Rumi berkata, “Kemarin aku merasa pintar, karenanya aku ingin mengubah dunia. Sekarang aku lebih bijaksana, maka aku mulai mengubah diriku sendiri.”
Setelah mampu memimpin diri, bolehlah orang mengembangkan harmoni keluar dgn menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, kebebasan dan tanggung jawab. Pemimpin bukan hanya mengikuti kemauan rakyat, tapi juga mendidik rakyat meraih kematangan pribadi.
Dalam istilah Bung Karno, pemimpin harus dapat ”mengaktivir kepada perbuatan”: "mengaktivir bangsa yang ia pimpin kepada perbuatan. Kalau cuma menyerukan perbuatan, tetapi dalam kenyataan tak mampu mengaktivir rakyat kepada perbuatan, buat apa bermimpi jadi pemimpin."
Pengalaman bangsa-bangsa menunjukkan, hanya pemimpin politik yg memiliki ketangguhan “modal moral” yang bisa membawa komunitas politik keluar dari kubangan krisis.Yang dikehendaki bukan sekadar kualitas moral individual (orang baik), namun terutama kemampuan politik utk menginvestasikan potensi kebajikan perseorangan itu ke dlm mekanisme dan kelembagaan politik yg bisa memengaruhi perilaku publik.
Jika sang “juru selamat” tak kunjung datang, mengapa pemimpin yg ada tak berusaha memperkokoh “modal moral" politiknya?
Tak pernah ada kata terlambat utk perbaikan dan pertobatan. Bagi para pemimpin yg ada, sebaikya menggemakan do’a St. Francis Asisi: “Tuhanku, jadikan aku instrumen kedamaian-Mu. Tatkala ada kebencian, kutaburkan cinta; tatkala ada luka, maaf; tatkala ada keraguan, keyakinan; tatkala ada keputusasaan, harapan; tatkala ada kegepalan, cahaya; tatkala ada kesedihan, keceriaan.”
Oleh: Yudi Latif